Rabu, 02 Desember 2009

REVIEW FILM NINJA ASSASINS [2009]

CITO 21, Row B-6, Studio 5, Date 02 Desember 2009, Time 14.25WIB, Rp 20.000;

*****
Kapankah terakhir kali anda nonton film (yg berjudul) Ninja? Atw setidaknya ad karakter ninja di dalamnya? Bagi penikmat film gw yakin kebanyakan langsung menyebut film G.I.Joe : The Rise Of Cobra, nggak salah memang karena mungkin sangking jarangnya film bertema Ninja diangkat ke layer lebar akhir-akhir ini. Nah, itu pula alasan saya untuk antusias nonton film ini meski nontonnya baru kemaren sore (telat.com) karena kemaren masih buk-masibuk ngurusi skripsi, tugas kelompok (sungguh susah ngumpulin temen2), dan hal-hal laennya yang meski kecil tapi berhubung numpuk ya akhirnya saya K.O. juga, kebiasan buruk yang tak patut dicontoh. Cukup sudah curhatnya, sekarang mari kita membedah film yang telah ngabisin duit sebesar 15 rebu perak.

Alkisah dahulu kala (kayak mw nyritain kisah majapahit aja) sebelum ada hape triji dan sebelum suramadu di bangun (apa kaitannya sih?) ad klan ninja yg bernama Ozunu, klan ini mendidik anak yatim untuk di jadiin ninja pembunuh terbaik kelak. Kemudian lahirlah pendekar-tanpa-tanding yg bernama Raizo (The Rain) anak didk klan tersebut, di laen tempat Mika (Naomi harris) sedang menyelidiki klan ninja ini yg dicurigai melakukan pekerjaan kotor dan menghubungkan langsung dg pejabat tinggi Negara. Adegan kemudian adalah atraksi ninja versi modern yg kadang absurd untuk dicerna akal sehat, maen bak-bik-buk ditempat umum. Aneh sih sebenarnya, ada ninja berperilaku seperti preman jalanan, okelah mereka berprofesi sebagai pembunuh bayaran tapi bukankah ninja dikenal sebagai pendekar misterius dan melakukan aksinya secara rapi? Menunggu dan bukan malah menyerang? Membunuh yg perlu dibunuh?

Marketing film ini sangat manjur untuk menggaet penonton cowok dan cewek sekaligus, namun baik Ninja Assasin (The Rain) maupun New Moon (Robert Pattinson) mempunyai alasan yang sama mengapa para cowok pada eneg, bahkan sampai ada yang memplesetkannya menjadi *maaf* Tinja Assin, kasus yang sama juga pernah menimpa film Titanic (Leonardo DiCaprio) 13 tahun yang lalu. Gaya perang film ini mirip Kill Bill yang sadis seperti tukang jagal di pasar hewan namun dengan dialog yang lebih sederhana, klise, dan gampang di tebak, sangat disayangkan bila film ini ditonton anak dibawah umur. Overall filmnya lumayan menghibur, kita sebagai penonton cuma tinggal duduk manis sambil nikmati popcorn dan atraksi hebat hasil jerih-payah-keringat para crew Hollywood selama mbuat film ini. Jadi kita nggak perlu kepikiran sampai nggak bisa tidur gara2-gara ceritanya yang belum sampai membuat dahi keriput dan kepala anda botak, bukan?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog ni gak seru kalo gak ada komentar anda